Minggu, 20 Desember 2009

itung-itungan biaya ke Dieng yuk :)

 balapan bus, gak mau kalah sma motoGP :D

senja di Waduk Wadaslintang

narsis di Gapura Dieng Plateau

Setelah sebelumnya posting report tentang perjalanan ke Dieng sekarang report kedua dari perjalanan ke Dieng kita coba bahas tentang konsumsi bahan bakar motor dan biaya yang kita keluarkan ketika jalan-jalan ke Dieng, buat kira-kira butuh dana berapa kalo mau kesana tik-tok,,
Motor yang kita pakai kemarin adalah Honda Supra X (Arief H), Honda Absolute Revo (Kucluk), Suzuki Spin (Akhmad), dan Suzuki Skydrive (saya).. Sebenarnya awalnya saya berharap  Ari juga bawa Honda Beat biar tahu seberapa beda antara matic Honda sama matic Suzuki.

Berangkat dari Prembun semua motor di isi fulltank di pom bensin Rami. Jarak dari Prembun ke Wonosobo berapa kilometer kurang bisa saya patikan tapi jika dilihat dari jumlah bensin yang berkurang di motor saya pribadi sepertinya sekitar 70km karena di Wonosobo duo matic Suzuki sudah kehilangan bensin setengah tanki. Di Wonosobo kami putuskan untuk mengisi penuh kembali duo matic dan habis uang rp9000.

Perjalanan kami lanjutkan menuju daerah Wonosobo yang lebih menanjak dari sebelumnya. Berdasarkan papan penunjuk jalan, jarak Wonosobo sampai Dieng seharusnya hanya sekitar 26km, jadi sampai di sana kami tidak perlu isi bensin untuk berkeliling karena bensin diperkirakan masih mencukupi.

Setelah cukup pusing berkeliling dan memutuskan untuk pulang, kami memutuskan untuk mengisi bensin kembali di pom bensin dekat pintu masuk candi. Duo matic Suzuki kembali mengisi bensin kurang dari rp8000 yang artinya baru habis setengah tanki tapi koq rasanya kita belum jalan sejauh itu ya? Akan tetapi entahlah, karena memang awalnya tidak ada tujuan untuk menghitung konsumsi bensin tiap-tiap motor jadi kami kurang perhatian dengan hal itu. Yang bener-bener membuat saya kaget adalah pengisian bensin Absolute Revo yang hanya rp11000.. Walaupun emang sebenarnya cuma beda satu liter dari duo matic tapi koq jadi berasa irit banget ya???hehehe Yang terakhir adalah pengisian Supra X, tidak diisi full tetapi hanya diisi sebesar rp5000.

Turun gununglah setelah itu,,tadinya saya pikir sampe Wonosobo pasti akan minta isi lagi ni duo matic,, ternyata tidak dan indikator penunjuk bensin hanya bergerak sedikit dari posisi full. Mungkin karna jalanan yang terus menurun ya? jadi tidak perlu betot-betot gas udah bisa jalan,,,

Lanjut balik ke Prembun melewati rute Wonosobo-Wadaslintang. Lagi-lagi jalanan yang dilalui penuh dengan turunan dengan ada sedikit tanjakan, tidak seperti dari Dieng Wonosobo yang boleh dibilang hanya turunan atau jalan datar yang ditemui. Sampai di Prembun, indikator bensin duo matic menunjukkan bahwa bensin telah berkurang setengah tanki atau sekitar 2 liter. Tapi mangstabnya adalah pada Absolute revo, indikator ga jauh-jauh dari full.. MANGSTAB!!!

Berikutnya HTM area wisata di daerah Dieng,, Sesuai dengan report sebelumnya, area yang telah kami datangi adalah Kawah Sikidang, dan candi-candi kecil di sekitarnya dengan satu tiket masuk senilai rp6000 dan parkir untuk sekali parkir adalah rp2000, harga tiket masuk untuk museum adalah rp2000. Jadi untuk area tersebut membutuhkan biaya sekitar rp16000. Untuk Telaga Cebong tidak dipungut biaya,,
sedangkan Telaga Warna, air terjun, Kawah Sileri, dan objek yang lain kita anggap saja dengan HTM sekitar rp5000 per area, karena kami tidak sempat mampir ke sana. Next time harus menyempatkan mampir ni. :)

Biaya makan siang di sekitar pasar dekat pertigaan yang ada peta Dieng adalah rp6500 dengan sajian nasi anget, 3 macam sayur, ikan bandeng, gorangan, teh anget. Dan makan malam, kita anggap sudah sampai rumah dan makan dirumah.

Dengan perhitungan seperti di atas sebenarnya jika kita menggunakan motor matic dari Prembun/Kutowinangun kita tidak butuh dana yang terlalu besar untuk jalan-jalan ke Dieng apalagi untuk yang memang benar-benar hanya ingin menikmati perjalanan, cukup uang bensin rp15000 sebelum berangkat trus rp9000 di Wonosobo, sebenarnya untuk pulang tidak diisi lagi pun cukup sampai, tapi untuk lebih tenangnya siapkan uang lebih rp8000. Dan kalo ingin masuk ke salah satu tempat wisata, telaga atau yang lain siapkan uang lebih rp10000 lagi. Setelah dihitung tidak sampai rp50000 sudah bisa jalan-jalan ke Dieng... MANGSTAB!!!
Kalau menggunakan motor yang seirit Abs revo di atas kita cukup sedia uang rp20000.. :thumbup:
Kalo ada uang rp50000 sudah termasuk sama makan,,,wakakakakaka

Mungkin untuk orang yang kurang bisa menikmati naik motor dan sekedar ingin tahu seperti apa siapkan saja rp300000 saya rasa cukup untuk menginap berdua dan makan,,,

Hanya saja saya pribadi kalau mau jalan-jalan rasanya kurang tenang kalau membawa uang hanya pas-pasan, jadi saran saya bawalah rp200000 ato rp300000 biar ayem ini ati...:)
Dan,,, Menurut saya enakan pake matic daripada pake bebek manual...:) blum tau kalo pake motor sport.. karna tinggal betot gas aja dan ga perlu sesuain gear postion yang pas buat nanjak kaya bebek sekarang.. matic??? :thumbup:
Matic dalam pembandingan konsumsi bensin seperti yang telah saya tuliskan di atas, adalah matic Suzuki,, kalo katanya perbandingan penggunaan bensin antara matic-matic yang ada dari yang paling irit ke boros adalah:

1. matic Honda
2. matic Suzuki
3. matic Yamaha

Mungkin ini yang bisa saya cerita tentang biaya jalan-jalan ke Dieng.. :)
Anda tertarik??? MANGSTAB!!! :thumbup:

thanks buat  Akhmad, Anjan,  Ari, Arief W dan Arief H, Kucluk,,, :shakehand:

 bahan bakar yang kami gunakan di sini adalah:
1. Spin, duo AHM --> premium murni
2. SkyDrive --> premium+benzobak/petroltank


First Touring to Dieng Plateau Area

 
 narsis

Long weekend pertama bulan Desember memasuki hari terakhir tapi malah makin GeJe dan KeRe ya, wakakakaka,, Daripada makin GeJe, mending sedikit menulis report "touring" ke Dieng, Kamis, 17 desember 2009. Touring atau sekedar jalan-jalan ya? terserah masing-masing pihak yang menafsirkan, tapi saya lebih menikmati perjalannnya di trek naik turun daripada tempat wisata berupa sendang dan kawah-kawahnya. Terutama jalanan ketika turun.. MANGSTAB!!! bisa sedikit mengasah keahlian bawa motor dan meluapkan adrenaline,,, sempat nyesel juga bawa boncenger,,hehehe

Perjalanan yang awalnya direncanakan berangkat jam 7.00 wib tertunda sampai jam 8.30 wib karena berbagai sebab. (maklumlah oprang Jawa,,,hehehe maaf kepada masRotiq Anwari yang ga jadi ikutan karena awalnya saya sudah menolak permintaan mengundur waktu jadi jam 8,,,xixi). Sebelum berangkat kita putuskan untuk melalui jalur Kutoarjo - Wonosobo karena takut sebagian motor tidak kuat melewati jalur Wadaslintang - Wonosobo yang (katanya) terjal. Beberapa kali kami bertanya arah pada orang daerah yang dilewati karena memang kami belum pernah melalui jalur tersebut, bahkan belum ada yang pernah ke Dieng sebelumnya,,,hehehe :malu. Setelah menempuh jarak 40 km dari awal kita start bareng-bareng , tepatnya di pertigaan Kepil, kami istirahat sembari cari tahu jalan ke Wonosobo itu belok kanan ap kiri,hehehe

Lanjut rolling lagi menuju Dieng, jalanan lancar sampe Wonosobo. Di Wonosobo kami cari-cari petunjuk jalan ke Dieng sambil cari-cari pom bensin, karena pasukan matic termasuk saya sudah mulai dihantui rasa takut kalo-kalo kehabisan sampe Dieng nanti yang katanya tinggal 26 km dan tanki kami masih setengah full yang artinya cukup untuk +/- 70km.. Lanjut dari Wonosobo-Dieng, motor mas Arief Hardo tidak kuat menanjak sambil bawa boncenger dan akhirnya kita mas Arief W pindah bareng mas Kucluk. Perjalanan lanjut terus dengan saya dibelakang jagain mas Arief H kalo-kalo ada apa-apa karena motornya dah bau kaya kebakar. Di jalan akhirnya kita putuskan mas Arief H n mas Kucluk di depan sedangkan saya+mas Anjan dan mas Akhmad+mas Ari ngawal dibelakang masing-masing satu motor.

Masuk daerah Dieng Pass saya dan mas Akhmad memutuskan berhenti untuk menikmati pemandangan dan sedikit foto-foto. Pemandaangan yang MANGSTAB!! Kalau hanya dibandingkan dengan puncak masih menang deh,hehe Lanjut Gan! Kita kejar duo Arief yang ternyata sudah menunggu di Gapura Dieng Plateau Area, berhenti lagi buat photo-photo ( maklum baru pertama ke Dieng,,jadi buat bukti jkalo dah ke Dieng,,,:P).

Kelar photo-photo lanjut lagi, next istirahat di deket pertigaan yang ada peta area wisata Dieng untuk sholat, maksi, dan memutuskan mw jalan kemana dulu kita. Maksi murmer euy.. cuma rp6500 dah dapat nasi dengan tiga sayur dan ikan bandeng, teh anget, gorengan,, MANGSTAB!! Cukup menghangatkan badan kita dari hawa dingin yang mulai merasuki tubuh yang walaupun sudah pake jaket, windvest, dan sarung tangan. Kita putuskan untuk jalan ke kiri a.k.a sisi selatan dengan tujuan Telaga Warna. Telaga Warna delay, jalan lanjut ke Telaga Cebong dengan melewati area pembangkit listrik dan area perumahan warga. Diluar perkiraan saya ternyata warganya tajir-tajir, tiap rumah ada mobil digarasi,,, MANGSTAB!!! Warganya pada pake sarung semua kalo keluar rumah dan mukanya itu yang membuat saya kaget seperti ndak pernah mandi,,ck,,ck,,ck,, Jalanan kesana mangstab, ada sebagian jalanan memananjak yang aspalnya sudah hancur jadi malah keliatan cuma batu-batu. Seperti sebelumnya posisi saya dibelakang sendiri ngawal dua motornya *HM yang kurang mampu melalui tanjakan. Tepat seperti dugaan saya, ketika menuju tempat melihat sun rise yang bener-bener nanjak dan proses pavingisasi Abs Revo+boncenger tidak kuat lenjut dan saya memutuskan menemani disana sedangkan mas Arief dengan Supra X-nya dan mas Akhmad+Ari dengan Suzuki Spin lanjut ke arah sun rise.. Tapi pada akhirnya mereka pun menyerah dan kembali ke posisi kami menunggu karena masi berpikir dengan keadaan motor dan kami ndak membawa perbekalan+peralatan cukup untuk perbaikan motor.

Kawah Sikidang dan candi-candi jadi tujuan selanjutnya, dengan HTM rp6000 kita bisa ngliat Candi Gatutkaca, Arjuna, dan Bima. Kawah Sikidang jadi satu-satunya kawah yang kita singgahi hari itu. Pemandangannya bagus :thumbup: cuma bau belerangnya yang ga nahan,hehehe Candi-candi yang jadi tujuan selanjutnya jujur mengecewakan kami karena hanya candi-candi keccil yang belum selesai dipugar, jadi akhirnya kita cuma lewat dan menuju Pom Bensin terdekat karena motor dah haus,hehehe
Niat selanjutnya adalah ke Telaga Warna tapi berhubung ternyata sampai di sana harus bayar HTM lagi senilai rp2000 dan ternyata waktu dah sore sekitar jam 15.00 jadi kita putuskan turun.

Niat awal kita mau turun lewat daerah Banjarnegara tapi berhubung dah sore dan kita tidak mau buang-buang bensin+pulang kemalaman jadi kita putuskan pulang lewat Wonosobo lagi.
Nah ini nih yang ditunggu, jalur turunan dari Dieng ke Wonosobo... :thumbup: jalan liku-liku yang menurun memanjakan adrenaline. Kalau bawa motor sendiri mah enak tenan itu tapi berhubung kita bawa boncenger jadi tetep menahan diri. Kasian boncengernya kalo kita tetep nekad, dianya udah protes beberapa kali dan saya juga agak kaget karena sekali hampir nubruk truk :D
 

Ada tempat yang mesti sabar karena ad perbaikan jalan jadi kita mesti lewat jembatan dan jalan satu persatu lewat jembatan kayu yang tidak rata dan cukup tidak mengenakkan terutama untuk pasukan matic yang menggunakan velg ring 14". Jalur pertama yang memanjakan berakhir di kota Wonosobo. Kita singgah di Masjid Jami' Wonosobo untuk sholat ashar. Tidak dinyana di sana kita ketemu mas Bambang (temen kuliah di STAN). Sholat, istirahat, ngobrol-ngobrol tanpa terasa waktu menunjukan pukul 16.30wib dan kita putuskan lanjut pulang melewati jalur Wonosobo-Wadaslintang-Prembun.

*perutdahkenyanglanjutnulisreportlagi*

Jalanan dari arah Wonosobo sampai Wadaslintang tidak kalah menyegarkan dari jalur Dieng-Wonosobo. Bahkan boleh dibilang lebih menyenangkan karna jalur ini jarang mobi dan kendaraan umum. Jalur kelok-kelok nan menyegarkan, hanya saja harus lebih berhati-hati juga karena cukup banyak belokan agak berpasir, dan keadaan jalan yang tidak terlalu halus dibeberapa bagian. Tapi overall mangstab buat memanjakan adrenaline. Tiga motor tetep jalan dengan bahagia kecuali motor mas Kucluk karna masih inreyen *soft break in*. Diikuti beberapa motor yang juga turun dari Wonosobo.

Sampai dekat waduk kami putuskan untuk mampir dan menikmati suasana senja di sana, rasanya nyaman, duduk-duduk, sambil makan kurma, dan ngobrol-ngobrol walopun ga lebih dari 30menit kita berhenti dsitu tapi terasa damai banget memandang suasana waduk disore hari.

Maghrib datang perjalanan kita lanjutkan sambil mencari masjid untuk sholat maghrib. Didekat daerah SMA Negeri Prembun kita nemuin masjid untuk sholat. Selesai sholat kita ke kota Prembun dan makan di angkringan tepat di ujung pertigaan Wadaslintang, di sebelah pos polisi. Dan selesai touring hari itu,,, :)

Masih banyak area wisata di Dieng yang belum sempat kami singgahi, dan itu membuat saya pribadi ingin kembali ke sana untuk menikmati jalanan yang MANGSTAB!!! dan menikmati tempat-tempat wisata yang kearin belum sempat disinggahi.
Saran saya kalo emang mau ke Dieng :
mending bawa motor sendiri-sendiri so semua bisa menikmati jalanan yang ada dan ga perlu menyiksa mmotor saat jalur naik;
perkirakan waktu perjalanan,, kalo perlu mah nginep,,,hehehe Tapi ini butuh dana lebih,,, Mendingan perkirakan jam berangkat dan kecepatan di jalan karna kemarin terlalu lamabat saat berangkat;
tentuin tempat-tempat yang mw kita datangi, karna kalo dalam waktu sehari sepertinya ga akan selesai semua...;

Ada yang mau ke Dieng lagi???kapan??hayuk... yuk...hehehe